Mama berkata:
“Aku selalu turuti apa kalian,...
aku memelihara kalian,...
aku menyuapi kalian,...
mengganti baju kalian,...
mengajar kalian berjalan, juga mencuci kotoran-kotoran kalian,...
Tak jarang aku juga menampung nafsu-nafsu kalian.
Kalian semua anak-anakku,
meski kalian tak pernah mengakuainya.
Dimata kalian aku hanya seperti kuah basi yang jatuh di meja makan.
Sekarang kalian minta ku telanjang? Kalian hanya
akan melihat kotoran-kotoran kalian sendiri!!...Tapi, ...aku
tak berat hati melakukannya. TIDAK. ....
Demikian sedikit sinopsis dari “Makan” yang akan di pentaskan Sempene Riau Teater pada Sabtu 4 Desember 2010 pukul 19.30 nanti di Balai Dang Purnama Rengat Inhu (Riau). Sebuah naskah karya Benny Yohanes atau yang lebih dikenal dengan BenJon ini disutradarai oleh Ade Puraindra, mahasiswa lulusan ISI Yogyakarta yang juga salah satu peraih Program Kompetitif Magang Nusantara Kelola HIVOS 2010.
Pada pertunjukan nanti, “Makan” masih menawarkan dan berbicara banyak tentang distorsi dalam struktur indera manusia. Sang sutradara mencoba mengemasnya dan menyampaikan rasa kepada penonton, “rasa tidak nyaman,...tapi penasaran,... menuju titik katartis tontonan atau meny(u)-suci-kan jiwa serta pengkristalan ide-ide yang telah (akhirnya) disampaikan dalam pertunjukan yang utuh”. Intinya, sebagai penonton yang duduk di bangku penonton (sangat diharapkan tidak berdiri kerena akan mengubah persepsi kesimpulan akhir pertunjukan), penonton diharapkan memaknai pertunjukan ini tidak sepenggal-sepennggal saja karena “Makan” adalah keutuhan yang tidak dapat dipecah-pecah. Dalam proses rencana kerjanya sendiri, naskah “ Makan” sudah menjadi buah pikiran sejak pertengahan 2005 silam. Sedikit demi sedikit bangunan kerangka dan landasan teknik penyutradaraan mulai dirangkakan. Beberapa teknik yang akan muncul menjadi tontonan utuh juga merupakan bertitik tolak dari proses terdahulu dengan naskah berbeda yang sudah Ade sutradarai, diantaranya: ROH (Wisran hadi, pentas tahun 2007 dan 2008), PRALAYA (Fedli Aziz, pentas tahun 2008), RANGGUNG Dalam Perjuangan (Salimi Yusuf, dipentaskan tahun 2009), GeGeR 5 JANUARI (sempeneRIAUteater, dipentaskan tahun 2010) dan pertunjukan teater dadakan dalam event Gagas Teater tahun 2010 yang berjudul 1x1 = 8 Kosong yang apabila sedikit banyak diikuti ritme kalaan pentas tersebut sudah dapat dipastikan mampu menarik kesimpulan teknik taktis pertunjukan yang agak lebih sempurna pada penyutradaara naskah kali ini.
Ada yang unik dari petunjukan “Makan” yang akan dibawakan Sempene Riau Teater. Aktor-aktor dan artis-artisnya yang akan berlakon dihasilkan dari proses casting terbuka yang kemudian menghasilkan artis-artis dan aktor-aktor dengan pribadi unik yang memiliki keragaman karakteristik laku personal yang memiliki kekhasan masing-masing. Tidak hanya itu, penciptaan artistiknya menggunakan bahan yang selama ini mungkin dianggap kurang berguna bahkan dikategorikan sebagai limbah. Namun dengan proses kreatifnya mereka kembali memproduksi dan menginovasi bahan-bahan tersebut menjadi properti pendukung pementasan. Tidak hanya itu, mereka juga memanfaatkan ide artistik dalam fokus aplikasi multimedia dan audio software terkini. Sedangkan, dalam menyingkapi makna simbolik yang hadir melalui semiotika dalam rangkaian seluruh pertunjukan ini, menurut sang sutradara, tidaklah memerlukan pendalaman yang detail. Penonton atau penikmat hanya diwajibkan emmiliki 3 pisau tajam, yaitu pisau untuk mampu mengupas “Makan” melalui persepsi psikologis, sosiologis, nalar, naratif yang estetis dari dialog. Maka hadirlah artistik multifungsi tersebut dalam “Makan”.
Dalam pementasannya kali ini, Ade tidak hanya menawarkan gagasan, namun juga mengharapkan sebuah kesimpulan yang nantinya menjadi landasan teknik penciptaan, teknik penyutradaraan, konsep garapan, ide gagasan artistik, barometer observasi naskah dan analisis naska pada proses kreatif “MAKAN” empisodik dari “makan” yang akan ditampilkan Sempene Riau Teater, paraih 3 kategori pada Gelora Teater Riau XI 2009. (Eci Saka)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar